Perusahaan Crown Diminta Aktivis Diburu Polda Riau, Buntut Kematian Pekerja Juan Hasibuan

Perusahaan Crown Diminta Aktivis Diburu Polda Riau, Buntut Kematian Pekerja Juan Hasibuan

JAKARTA || Mediaappi.com – Kapolda Riau Irjen Pol Mohammad Iqbal diminta mengusut perusahaan bernama Crown, yang diduga sebagai perusahaan pelaku tindak pidana perdagangan orang atau TPPO. Diketahui, perusahaan Crown merekrut salah seorang warga Desa Pinang Sebatang Timur Kecamatan Tualang, Siak, Juan Agave Costa Hasibuan, dan dipekerjakan di Kamboja. Sayangnya, Juan Agave Costa Hasibuan dinyatakan meninggal dunia pada 26 Mei 2023, setelah dirawat karena menderita penyakit TB Paru, berdasarkan diagnosa rumah sakit Colmatte Phnom Penh, Kamboja.

“Perusahaan Crown adalah perusahaan tidak resmi atau tidak terdaftar, sebagai perusahaan perekrutan tenaga migran Indonesia. Perusahaan ini juga telah melakukan tindakan percobaan pemerasan terhadap keluarga almarhum Juan Hasibuan, dibuktikan chatting WhatsApp yang diterima ibu kandungnya Rumina Manurung. Oleh ibu kandungnya mengakui dimintai biaya perobatan senilai 295 juta rupiah karena putranya Juan dirawat di Kamboja,” kata Aktivis Lembaga Monitor Penyelenggara Negara Risky Ahmad Harahap di Jakarta, Rabu (14/6/2023).

Ahmad mengaku bahwa telah melayangkan surat pengaduan lembaganya ke tujuh lembaga tinggi negara.

“Kita sudah surati bapak Presiden RI, Kapolri, Ketua DPR RI, Kemenkopolhukam, Kemenkumham, Kemenlu dan Komisi 1 DPR RI. Bahkan, anggota DPR RI bapak Hinca Panjaitan,” ujarnya.

Ahmad juga menduga terdapat persekongkolan oknum di Kemenlu, yang jelas mengetahui keberadaan perusahaan Crown.

“Kami telah lakukan investigasi di Jakarta, dan mendapatkan informasi adanya dugaan keterlibatan oknum pegawai di Kementrian Luar Negeri bidang Direktorat Perlindungan WNI berinisial H. H dengan jelas mengetahui perusahaan Crown. Bahkan H yang sebutkan perusahaan tersebut. Seharusnya, pihak Kementerian melaporkan hal ini ke Polri, untuk ditindaklanjuti. Ini juga pernah diamanahkan bapak Presiden RI untuk memberantas pelaku TPPO,” sambungnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) Juan Agave Costa Hasibuan tiba ditanah air, Kota Pekanbaru, Riau, pada Sabtu (3/6/2023) siang. Sebelumnya, pihak Kementerian Luar Negeri memastikan keberangkatan jenazah almarhum pada Jumat (2/6/2023), selama 10 hari lamanya.

Jenazah pria asal Kecamatan Tualang, Siak itu diberangkatkan ketempat peristirahatan terakhir, di desa Pinang Sebatang Timur, Kecamatan Tualang, Siak pada Sabtu sore.

Ratusan pelayat memadati kediaman keluarga almarhum Juan Agave Costa Hasibuan.

Berawal saat ibu Juan Hasibuan, R Br Manurung mendapatkan kabar dari Kamboja, bahwa puteranya dirawat secara intensif di Rumah Sakit Calmette, Kamboja. Selang selama dua pekan, nyawa Juan tidak dapat diselamatkan dikarenakan penyakit yang diderita cukup parah.

“Yang bersangkutan menurut keterangan pihak Kementerian Luar Negeri mengalami penyakit TB Paru. Pihak perusahaan ditempat almarhum Juan juga memaksa dan meminta sejumlah uang untuk biaya perobatan selama Juan dirawat, dan jumlahnya mencapai 295 juta rupiah,” kata Koordinator LSM Lembaga Monitor Penyelenggara Negara Ahmad Harahap di Jakarta.

Berbekal keterangan serta informasi di media online dan penelusuran dengan pihak orangtua almarhum Juan, akhirnya secara resmi pihak LSM melayangkan pengaduan resmi ke Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Cabang Propinsi Riau.

“Kita layangkan langsung surat pengaduan ke BP3MI Riau, dan alhamdulilah langsung ditanggapi selang waktu dua hari. Pengaduan masuk pada 20 Mei 2023. Kita juga bertolak langsung ke Jakarta, untuk mempercepat pemulangan Juan Hasibuan. Saat itu, Juan masih dalam keadaan hidup namun fisiknya tidak stabil dan penyampaian pihak perusahaan Juan harus dirawat pihak keluarganya sendiri. Artinya mereka mau mencoba lepas tangan,” ungkap Ahmad.

“Hal ini membuat kita datang ke kantor Kementerian Luar Negeri dan bertemu dengan pegawai dibidang Perlindungan WNI, dan segala tagihan kepihak keluarga pun dibatalkan atau perusahaan diminta bertanggungjawab atas Juan. Tanggal 26 Mei, satu jam sebelum Juan wafat, perusahaan bernama Crown akhirnya melunaskan semua biaya perobatan Juan senilai 295 juta rupiah,” sambungnya.

Sayang, sejam seusai pihak perusahaan mengklaim pihaknya yang bertanggungjawab atas pembayaran rumah sakit, pada pukul 16.00 WIB, pihak perusahaan mengabarkan Juan sudah meninggal dunia.

“Ini yang membuat pihak kami lembaga heran. Tetapi apa boleh buat, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kehendak Tuhan yang terjadi. Tapi, sebagai catatan juga jasad almarhum Juan juga tidak dengan gampang untuk dipulangkan, dikarenakan terkendala birokrasi negara Kamboja,” urai Ahmad.

JASAD ALMARHUM JUAN DIPULANGKAN, SETELAH MEMINTA SUAKA GIBRAN

Jenazah almarhum Juan Agave Costa Hasibuan, akhirnya dipulangkan pada Jumat 2 Juni atau satu pekan setelah dikabarkan wafat di Kamboja.

Pihak lembaga pun menempuh jalur cepat, guna pemulangan jenazah Juan tidak dipersulit.

“Kalau kata pihak KBRI, pemulangan jenazah memakan waktu sepuluh hari paling lama. Tentunya ini membuat masalah baru bagi keluarga Juan, maka saya dan rekan lembaga mendatangi anggota DPR RI Hinca Panjaitan, tetapi juga pihak KBRI menyatakan hal yang sama. Selanjutnya, kami mendatangi pihak Kemenlu, tetapi pihak Kementerian Luar Negeri tidak mau dipaksa, bahkan oknum pegawai disana katakan bahwa beruntung perusahaan mau bertanggungjawab atas perobatan Juan, karena Juan dinyatakan sebagai pekerja Indonesia yang tidak resmi,” bebernya.

“Ini membuat kami marah, dan langsung mendatangi berbagai pihak hingga akhirnya bertemu dengan bapak Gibran Rakabuming yakni putera presiden RI di Surakarta, tanggal 31 Mei lalu. Ahirnya jenazah almarhum dipulangkan,” sambungnya.

LAPORAN SOAL JUAN HASIBUAN VIRAL, TUJUH LEMBAGA NEGARA DILIBATKAN MENGINVESTIGASI

LSM LMPN pun menyurati tujuh lembaga negara, untuk menginvestigasi persoalan maraknya pekerja ilegal serta kematian yang diduga janggal.

“Tujuh lembaga telah kami lobby untuk turun tangan. Yakni, Presiden RI, Komisi 1 DPR RI, Kapolri, Kementerian Luar Negeri, Kemenkumham, Kemenkopolhukam, Ketua DPR RI. Pekan depan kita cek bila dilanjutkan perkara yang kita adukan,” kata Ahmad.

Menurut catatan lembaganya, terdapat beberapa kematian janggal atau misterius terhadap pekerja migran Indonesia di Kamboja, salah satunya bulan Maret 2023 atas nama Rendy warga Manado, dikabarkan wafat diduga dibunuh. Selanjutnya pada Bulan Mei, seorang pemuda juga wafat atas nama Erlangga Setiawan, warga Kota Dumai. Pihak BP3MI Riau katakan Erlangga terkena serangan jantung.

“Kementerian terkait harus bisa mengungkap kasus ini. Karena hal ini bukan satu kali saja. Banyak WNI di Kamboja masuk dan bekerja, kabar atau informasi mereka disekap, disiksa, atau dibunuh. Pemerintah Republik Indonesia harus tegas dan ungkap kasus seperti ini. Jangan ada backup terhadap sejumlah perusahaan luar, yang menampung WNI bekerja. Ini namanya Tindak Pidana Perdagangan Orang atau TPPO,” pungkasnya. (R/Simon)