Merasa Diabaikan, Korban Kebakaran Pasar Kalideres Kirim Surat Terbuka Buat Anies

Merasa Diabaikan, Korban Kebakaran Pasar Kalideres Kirim Surat Terbuka Buat Anies

PPI.Com || Jakarta _ Bapak Gubernur yang terhormat…

Perkenalkan kami adalah para korban kebakaran pasar kalideres, Jakarta Barat. Sudah tujuh bulan lebih ini kios kami terbakar dan nasib kami terkatung2 di pinggiran Ibukota. Belum lagi tidak adanya ganti rugi yang layak dari pihak Perumda Pasar Jaya akan barang dagangan kami yang hangus terbakar. Kami mengalami kerugian hingga ratusan juta, namun Pasar Jaya hanya memberikan uang kerohiman pada kami sebesar lima juta rupiah. Sudah jelas, hal itu kami tolak. Usaha yang kami bangun selama puluhan tahun, hancur tanpa sisa hanya dalam sekejap mata.

Karena bangunan pasar akan direvitalisasi, maka pada tanggal 1 Oktober 2021 kami dipindahkan ke tempat penampungan sementara (TPS) yang telah disediakan oleh pihak Perumda Pasar Jaya di area parkir yang lahannya sangat sempit dan terkesan dipaksakan pembangunannya. Ukuran kios yang kami tempati di tempat penampungan sementara itu hanya 1,8 M X 1,5 meter per segi. Tidak sampai 4 meter per segi luas kios tersebut. Pada tiap kios tidak dipasang MCB, aliran listrik di penampungan tersebut di los begitu saja tanpa pengaman.

Pada awal kami berjualan di penampungan sementara tersebut, memang sering terjadi mati listrik sebelah. Kadang di kios kami listriknya mati, sementara di sebelah kios kami listriknya menyala, terkadang juga sebaliknya. Dan ketika kami tanyakan kepada pengelola pasar, katanya gardu listrik nya panas, maka harus dimatikan sebelah. Ada juga tetangga kios kami, pedagang juga, yang stop kontaknya telah dimatikan, namun arus listriknya masih tetap menyala, terjadi korsleting katanya, ketika kami tanyakan kepada pihak yang mengerti listrik. Bahkan salah seorang pengelola pasar pun pernah kesetrum karena membantu memperbaiki aliran listrik yang korslet di kios penampungan tersebut. Banyak saksi mata yang melihat peristiwa itu.

Seminggu sebelum terjadi peristiwa yang mengenaskan itu, datang tim dari Cikini mengontrol dan memperbaiki gardu listrik yang sering bermasalah itu. Lalu seminggu kemudian, tepatnya pada hari minggu, tanggal 24 Oktober 2021, terjadilah peristiwa yang sangat memilukan itu. Kios kami terbakar. Sebanyak 57 kios pada saat itu terbakar. Hanya dalam hitungan menit. Begitu juga barang dagangan kami, semuanya ludes terbakar api. Tak ada sedikit pun yang tersisa, hanya airmata dan isak tangis para korban yang terdengar.

Lalu untuk memenuhi kebutuhan hidup, pada Pertengahan bulan desember 2021, sebagian dari kami terpaksa berjualan dengan barang dagangan seadanya di emperan pasar dan trotoar jalan. Ada juga diantara kami yang baru berjualan pada pertengahan Januari, bahkan ada yang baru berjualan pada pertengahan Februari. Itu pun modalnya boleh minjam dari sanak saudara. kami terpaksa berjualan di bawah terik matahari dan hujan, agar perut kami dapat makan.

Tentunya dengan barang dagangan yang sedikit, kami hanya bisa memperoleh keuntungan yang sedikit pula. Kadang kami juga tidak pelaris sama sekali. Belum lagi kalau diguyur hujan. Barang dagangan kami banyak yang rusak dan tidak bisa laku lagi terjual.

Pada awal Februari, kami berkirim surat ke manajemen Pasar Jaya, agar tempat penampungan sementara dan gedung utama pasar segera dibangun. Tak lama kemudian datanglah Petinggi Pasar Jaya ke Pasar Kalideres. Mereka berjanji akan membangun tempat penampungan sementara yang bekas terbakar agar para pedagang korban kebakaran dapat berjualan kembali di penampungan. Mereka menjanjikan proses pembangunan tersebut hanya butuh waktu tiga minggu. Atau paling lambat, hanya empat minggu. Setelah itu mereka akan membangun gedung utama pasar kalideres yang telah empat bulan dirobohkan.

Beberapa lama kemudian, masih di bulan Februari, datanglah tukang yang akan membangun kembali tempat penampungan sementara yang telah terbakar itu. Bukan main bahagianya hati kami saat itu. Tak terasa, airmata kami menetes menyaksikan semua itu.

Namun kebahagiaan yang kami rasakan pada saat itu hanya fatamorgana. Buktinya sampai hari ini, sampai saat kami menulis surat ini, pembangunan tempat penampungan sementara itu tak kunjung selesai. Sampai detik ini kami masih berjualan di emperan dan trotoar jalan. Sering kami kehujanan dan basah basahan. Semua itu kami lakukan agar kami dan anak anak kami dapat makan, sisanya buat bayar kontrakan dan angsuran.

Kini barang dagangan kami semakin sedikit. Terlebih lagi, di masa pandemi ini ekonomi sangat sulit sekali. Sementara hutang kami menumpuk di mana mana. Untuk membayar tagihan listrik di rumah saja, kami harus minjam kesana kesini.

Bapak Gubernur yang baik.

Kami telah lama dengar keberpihakan bapak kepada rakyat kecil seperti kami.
Tolong bantu kesulitan kami, pak. Tolong bantu ekonomi kami. Kami sudah tidak punya modal lagi untuk berjualan. Kemana lagi kami mengadu kalau bukan kepada pemimpin kami?!

Tolong bantu kami, pak. Tolong segerakan pembangunan tempat penampungan sementara agar kami dapat berjualan dengan tempat yang layak tanpa kepanasan dan kehujanan.

Dari kami,

Para Korban kebakaran Pasar Kalideres, Jakarta Barat.

Jakarta, 6 Juli 2022

(Red/Team)